Momen haru kembali dirasakan 165 orang wisudawan/wisudawati Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Said Perintah Masohi yang diwisudakan, Rabu (8/12/2021).
Bertempat di Gedung Mae Oku, Kota Masohi, ratusan sarjana S1 Program Studi Ilmu Administrasi Publik dan Prodi Ilmu Administrasi Bisnis angkatan XIII itu berhasil mengakhiri studi mereka di kampus hijau kuning itu.
Wisuda tersebut merupakan gelaran kedua setelah 27 November kemarin STIA Said Perintah mewisudakan sebanyak 92 Sarjana S1 Program Studi Ilmu Agama.
Dalam arahannya, Ketua STIA Said Perintah, Dr. Aidjarang Wattiheluw berpesan, agar ilmu yang diperoleh selama memangku pendidikan lanjutan di Kampus yang ia pimpin itu, dapat diimplementasikan di tengah-tengah masyarakat dan dalam meniti karir.
“Masyarakat adalah laboratorium yang sangat kompleks yang tak pernah habis untuk dibaca (dipelajari). Dibutuhkan otot, otak, dan hati untuk mampu membaca dan menembus kompleksitas permasalahan,” kata Wattiheluw.
Dia berpesan, bekal yang diperoleh dari almamater itu belum seberapa, baru dasar-dasar yang masih harus dikemabangkan dan diuji di tengah-tengah masyarakat.
“Oleh krena itu saya berpesan jangan pernah berhenti belajar.” jelas dia.
“Wahai anak-anakku para wisudawan hari ini Anda dilahirkan kembali oleh Alamamater ini setelah kelahiran pertama dari kelahiran ibumu. Laksana ibu susu, almamater ini telah memberi kalian air susu berupa ilmu dan keterampilan tertentu yang akan menjadi bekal dalam perjalanan anda memasuki alam baru, yaitu alam dan lingkungan social.” pesannya.
Kepada para wisudawan ia juga sudah mengingatkan bahwa dalam menghadapi tantangan usai diwisudakan jauh lebih kompleks.
“Karenanya anda harus mempersiapakan diri dengan ilmu dan ketramapilan lebih. Kurikulum berbasisi Kompetensi yang Anda akrabi selama ini, antara lain dimaksudkan agar menguasai bidang studinya.” ujarnya.
Berikutnya, “Hari ini kami kembalikan kepada putra-putri tercinta ke pangkuan ibu bapak. Dulu, kami terima ketika baru tamat dari SMA/MA dan setingkatnya. Hari ini kami kembalikan dalam keadaaan sudah sarjana.”imbuhnya.
“Karakter, alam pikiran, dan status sosialnya sudah berbeda, tapi sama sekali belum sempurna. Sarjana juga tidak berarti segala-galanya. Terimalah mereka apa adanya. Mereka masih butuh bimbingan, bantuan, dan perlindungan,” tandasnya.
Wisuda itu dihadiri Wakil Bupati Marlatu Leleury dan Ketua Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XII Maluku-Maluku Utara dan Papua, Muhammad Bugis.(*)




